TEKAD 2018
Ketika tekad yang kuat harus dibarengi dengan semangat eksekusi yang tinggi.
Begitulah pikir saia mengawali tahun ini. Semuanya karena memandang tumpukan setrikaan dan kamar anak yang belum dirapiin sepanjang liburan 14 hari yang lusa akan berakhir. Saat liburan dimulai sih saia udah nyiapin “to do list” di rumah karena memang tidak berniat kemana- mana (baca keluar kota Malang) saat liburan akhir tahun ini. Akhirnya setiap hari lebih banyak rebahan setelah masak ato nyuci dan melewatkan semua daftar yang dibuat.
Akhirnya setelah terpuruk *halah* sekian lama tanpa ending yang jelas, saya bertekad untuk memutus rantai kemalasan dengan membuat “to do list” lagi. IYA, saya ndak mudah kapok. Terlebih saya percaya pada quote tenar anonim yang menyatakan bahwa “Failing to plan is plan to fail”. Lhah, saya ndak mau gagal lagi. Saya mau berhasil mberesin cucian dan kamar anak berikut segala printilan lain yang ada dalam daftar.
Tapi biar saia lebih semangat melakukannya (iya, kalau tidak dilakukan kan tetep terpuruk namanya), saia mulai dengan (1) menyusun daftar yang berisikan tugas rutin, berkala, insidental dan meletakkannya dalam jadwal secara rasional (baca : menyesuaikan dengan sisa waktu dan tenaga) supaya ada “sense of accomplishment” katanya. Ujung- ujungnya sih biar tetep semangat melakukan rencana yang disusun.
Selanjutnya saia (2) membuat alokasi waktu yang wajar untuk melakukan semua kegiatan saia baik yang wajib, sunah maupun tidak dianjurkan (misalnya ndrama). Karena kehidupan saya berputar antara (a) suami; (b) anak; (c) kerjaan; (d) teman; (e) spiritual; (f) diri saya sendiri; (g) tidur maka saia membuat rumus matematika sederhana untuk menetapkan alokasi waktu yang wajar (dan harapannya adil bagi semua).
Soal matematikanya adalah sebagai berikut: Jika dibutuhkan 8 jam bekerja (c) setiap hari Senin hingga Jumat setiap minggunya dengan tambahan waktu tempuh pulang pergi 3 jam perhari dan tidur malam(g) sekurangnya 7 jam perhari maka berapa waktu yang tersedia untuk melakukan a, b, d, e, f dan g. Kegiatan c dan g menjadi patokan karena terikat pada peraturan. Maka rumusnya adalah sebagai berikut:
x (abdef) = (7*24) – (8+3)*5 + (7*7) / 5 dan setelah dihitung hasilnya adalah abdef = 168 – (11*5) – (49) / 5 = (168 – 104) / 5 = 64/5 = 12,8 jam per minggu atau 1,82 jam per hari per aspek diatas.
Selanjutnya saia mikir, lha ya masak anak saya yang 3 orang itu saia jadikan satu, akhirnya saya ulangi ngitungnya jadi sebagai berikut:
x (a3bdef) = (7*24) – (8+3)*5 + (7*7) / 7 dan setelah dihitung hasilnya adalah abdef = 168 – (11*5) – (49) / 7 = (168 – 104) / 7 = 64/7 = 9,14 jam per minggu atau 1,3 jam per hari per aspek diatas.
Baeklah, dari itungan terakhir sudah nampak berapa banyak waktu yang saya abuse di tahun kemarin dengan terlalu banyak melakukan kegiatan poin f atau diri sendiri (baca : ndrama). Ya sudahlah, menyesal tiada guna, lebih baik fokus aja lebih tertib waktu tahun ini. Huffff!!!!
Etapi buk, kok gak ada alokasi buat bersih – bersih yak???!!! Ya….. nasib orang sibuk gini emang harus siyap berkorban. Pikir saia sih simpel, kurangin ndrama lalu gunakan untuk bersih- bersih. BAIKLAH!!! Maaf bias- bias kesayangan, tahun ini komitmen mengendur dulu demi mengejar ambisi jadi lebih baik.
Ada motif tersembunyi sih dibalik komtemplasi *halah* waktu ini. Niat lanjut sekolah mulai dikejar usia, jadi kalau tidak lebih disiplin waktu dari sekarang ntar malah lebih menantang saat kuliah mulai. Sekali lagi, berkorban adalah suatu kewajaran ketika ada kebutuhan yang lebih mendesak dan penting. Lebih tepatnya sih menetapkan prioritas dari banyak hal yang semuanya (nampak) penting agar tujuan utama terlaksana. Ya ilustrasi mudahnya siy gini, ndrama tidak lebih penting dari beberes cucian dan seterusnya.
Berikutnya adalah tahapan yang paling krusial dari segala tetek bengek perencanaan dan perhitungan diatas yaitu (3) menepati rencana yang dibuat seakurat mungkin sesuai alokasi waktu. Dan (4) mencatat apa yang dilakukan untuk bahan refleksi *eaaaa* dan perbaikan jika diperlukan.
Selain 4 tahap penting tersebut, saia juga membuat beberapa slogan *eciye* yang diharapkan bisa membantu saia fokus ke rencana yang ada seperti misalnya:
“Cuci baju setiap hari ganjil (Senin, Rabu, Jumat, Minggu)”
“Ganti handuk tiap hari Sabtu”
“Ganti sprei tiap hari Sabtu minggu genap”
“Lipat baju dan setrika tiap hari genap (Selasa, Kamis, Sabtu)”
“Cuci piring segera setelah makan”
“Kembalikan kosmetik ke tempatnya tiap abis dandan”
“Ganti keset kamar mandi dua kali sehari tiap abis mandi”
“No Gadget on schooldays (for children” and “No gadget before 8PM (for parent) on workdays”
“Go for a family daytrip once a month”
“Visit Mbah Uyut once a week”
dst, dst, dst. Sesungguhnya nomor 8, 9 dan 10 adalah item baru yang harapannya bisa kami lakukan dengan tertib tahun ini. Eh, ada 1 yang saya niatkan tapi malu saia tuliskan yaitu mandi tertib dua kali sehari. Iyes.., saia kebanyakan dosis nonton drama musim dingin jadi jarang mandi malem.
Akhir kata, semoga semua yang saia tuliskan ini bound to happen this year. Saia akan tetap semangat berencana dan lebih semangat lagi untuk melakukannya. Dan akan saia mulai dengan mandi dulu (Ayah udah dua kali nyamperin kasi tau air anget mandi ampir dingin) sebelum ngelipet cucian menumpuk di depan mata.
LET’S BE BETTER EVERY SINGLE DAY!!!
Comments
Post a Comment